Jumat, 07 Oktober 2011

Pagi Kita

Pagi ini kita duduk di meja makan mungil ini. Aku mencengkeram cangkir tehku dan kamu dengan kopi tubrukmu. Pagi yang hening digelayut kantuk awalnya...

Ah...kamu kidung pengantar tidurku dan pagi ini kamu menjadi kicau pagi hariku. Kini dapur mungil kita telah kau penuhi dengan tawa dan kekonyolanmu. Nasi goreng buatanmu kocar-kacir keluar dari mulutku. Kita bahas tentang berapa desibel suaramu waktu mengorok semalam, tentang krim jerawat yang masih menempel di wajahku dan tentang kita yang menertawakan Jakarta. Kamu kacaukan imaji pagi romantis di Sabtu pagi ini menjadi realitas Sabtu pagi yang kocak.

Sayangku...pagi ini adalah satu dari sekian imaji Sabtu pagiku bersamamu. Sedang apa kamu disana?


Sincerely,
your messy rainbow

Minggu, 02 Oktober 2011

Teman

Yang dengannya aku bagi imaji tentang goresan masa depan.
Kita yang selalu berretorika, "kita ini apa?"
Kita dua orang teman yang saling menemukan
Reuni rasa dan kelakar tentang asa
Pertemanan yang membawa kita sejauh ini
Tautan hati yang meneguhkan sekuat ini
"Kita ini apa?"
"Kita ini teman yang saling menemukan dan melenyapkan ragu"

Cute Table


Someday gue pengen bikin meja kayak gini. Ultra lucuuuuu! :)

Sabtu, 17 September 2011

Saturday Romance

Is This The Place, We Used To Love?
Is This The Place That I've Been Dreaming Of?

'Somewhere Only We Know - Keane'

Sabtu, 10 September 2011

Tentang Tuhan


Sejujurnya aku benci ke rumah sakit. Mencium bau obat. Mendengar derak ranjang pasien yang didorong tergesa. Mereka yang berbaju putih dan membosankan. Suara tangis bahagia atas kelahiran dan duka kematian menjadi satu. Aku benci sakit. Tapi demi mereka yang sedang sakit, aku senang jika harus datang dan berkata ‘semoga lekas membaik’, karena aku juga menyukai dijenguk kala aku sakit. Itu membuatmu lebih baik, percayalah!

Hari ini aku ke rumah sakit, om mengalami radang usus. Syukurlah dia telah membaik. Dalam hening rumah sakit, dari ruangan sebelah aku mendengar seorang wanita menangis. Menangis sembari menguatkan suaminya yang terbaring sakit, aku sedikit mengintip. Kata tante, pasien kamar sebelah menderita asam urat. Sudah akut tampaknya. Bosan di kamar dan harus menepati janji seorang sahabat, aku permisi pergi ke mall sebelah.

Kembali lagi ke rumah sakit, kali ini aku tidak lagi mendengar tangisan sang istri dan erangan pasien ruangan sebelah. Kali ini ada pendeta sedang membacakan doa-doa kesembuhan baginya. Dirapalkannya harapan akan raga yang sehat. Dimohonkannya ampunan atas dosa-dosa. Dibimbingnya si pasien untuk kembali percaya Tuhan dan meyakini kebesaran-Nya. Dituntunnya si pasien memamah roti perlambang tubuh Kristus, Tuhan mereka. Samar-samar ku dengar sang pendeta berujar, tentang mengimani Tuhan dalam roti yang dia telan. Tentang perlambang iman yang berusaha dia ejawantahkan. Tentang kemurahan Tuhan yang ada dimanapun dan kapanpun. Tentang mukjizat kesembuhan atas sakit yang kita kira tak akan pernah ada obatnya. Aku mendengarnya dan aku pun mengamininya. Semoga dia lekas dibebaskan dari rasa sakit, sembuh dengan cara kehendak Tuhan. Pembacaan doa selesai dan ku dengar sang pendeta berpamitan.

Aku tahu banyak orang orang mengimani banyak nama yang mereka sebut dengan Tuhan. Aku menyebutnya Allah, mereka mungkin menyebutnya dengan sebutan-sebutan lain. Mungkin Yesus, Roh Kudus, Sang Hyang Widhi atau mungkin Yahweh. Yang pada-Nya kita bisa bisa mengandalkan apa saja. Yang oleh-Nya kita diberikan apa saja.

Eh, kebetulan banget di HBO ada Eat, Pray, Love... Nonton dulu ya :)

“God who we call we call with different names and worship in different ways, thank You for all the blessing You gave. Please lead us not to temptation. Amen!”
Taken from: cin(t)a

Selasa, 06 September 2011

Kaleidoscope Heart

Jump start my kaleidoscope heart
I love to watch the colors fade
They may not make sense
But they sure as hell made me

(Uncharted - Sara Bareilles)

Sabtu, 03 September 2011

Damn It's True!


Dalam sebuah percakapan...

“It’s okay. And I’m okay.”
“It’s seems not okay when you hang up the phone. Kamu marah?”
 “I’m in the middle of something.”
“Maaf ya, udah make your mood drops.”
“Thanks!”
“Heh? Thanks? What for?”
“For making my mood drops!”
“Kamu mau sampai kapan sih, sayang, moody gini? Biar aku bisa bikin RJPMMPYM.”
“Hah? Apa itu?”
“Rencana Jangka Panjang Mengatasi Mood Pacar Yang Moody.”
Sumpah! Dalam hati gue ngakak berat sekaligus kasihan sih sama pacar. Hahahaha...

Dalam percakapan selanjutnya dan selanjutnya....

“Aku benci saat-saat seperti tadi malam.”
“Yang aku ngantuk? Atau aku becandanya kelewatan?”
“Ah udahlah, males bahas lagi! Lupain aja yuk!”
“Tuhkan kamu suka gitu. Kamu lebih memilih mengendapkan. Ga ah...ga sehat.”
Well, dari sini gue tahu kalau pacar bakal mengeluarkan jurus-jurus silat dari lidahnya. Hihihih...
Dan benar saja, selanjutnya kata-kata ajaib meluncur dengan tak terbendung :p

“Kamu tau ga? Kamu itu kayak bak rendeman cucian.”
Whatttt??? Bak rendeman cucian? Pacar durhaka dia sampe ngatain gue kayak gitu! Sampai disini gue udah pengen protes aja sebenernya, tapi berhubung gue baik maka gue persilakan dia melanjutkan kata-katanya.

“Dilihat aja bersih, bening tak berbusa. Tapi begitu dikocok pake tangan, buihnya bakal keluar lagi. Terus begitu dibuang airnya, sisa endapan kotorannya banyak di dalem. Hitam!”
Damn! Gue benci kalau harus mengamini kata-katanya. Perumpamaan dia bener banget. Dan dia lanjutin...

“Ayolah, sayang! Kalau ada benang ruwet, kita pilihin. Dibuat biar lurus lagi. Kalau ada masalah kita kelarin, jangan ditaroh trus act like there’s nothing happen.”

Dududu...sambil kikir kuku gue pun cengar-cengir. Aaaa!!! Gue benci-benci gemes deh kalau dia bener soal kayak gini. He always knows how to calm me down, this why I love him :)